A. Asal-usul Pendidikan Nonformal
Kegiatan pendidikan dalam kelompok dan masyarakat telah dilakukan oleh
umat manusia jauh sebelum pendidikan formal lahir didalam kehidupan
manusia.
Ø Pengaruh Pendidikan Informal
Pada awalnya, pendidikan nonformal dipengaruhi oleh pendidikan informal
yang dipengaruhi oleh keluarga.Pola transmisi pengetahuan,
keterampilan, sikapm nilai dan dan kebiasaan orang tua terhadap
anaknya.Pola-pola tersebut dari keluarga ke dalam kehidupan kelompok
atas dasar wilayah tempat tinggal atau keturunan.
Ø Paruh Tradisi di Masyarakat
Dalam masyarakat terdapat tradisi dan adapt istiadat yang mendorong
penduduk untuk berusaha, bekerjasama atas dasar nilai-nilai budaya dan
moral yang dianut masyarakat.
Ø Pengaruh Agama
Belajar membaca kitab suci, kaidah-kaidah agama, tata ara sembahyang
yang pada umumnya dilakukan di tempat-tempat peribadatan
merupakankegiatan pembelajaran yang mendasari situasi pendidikan
nonformal.
B. Faktor Pendorong Perkembangan Pendidikan Nonformal
1) Para Praktisi di Masyarakat
Para praktisi pada umumnya terdiri atas para pemuda terdidi, pemuka
masyarakat, pimpinan organisasi, guru-guru sekolah dan tenaga sukarela
lainnya. Denagn tujuan untuk memberi kesempatan pendidikan kepada
masyarakat, menumbuhkan dan meningkatkan kesadaran masyarakat dan
menumbuhkan hasrat dan partisifasi masyarakat dalam meningkatkan taraf
hidup masyarakat dan bangsa. Kegiatan para praktisi di masyarakat
ditandai dengan adanya sekian banyak pelaksana yang secara sukarela
melakukan kegiatan pendidikan dalam upaya membantu masyarakat untuk
melepaskan diri dari ketinggalan.
2) Berkembangnya Kritik terhadap Pendidikan Formal
Gejala-gejala yang mennjukan adanya krisis pendidikan formal yaitu
ketidakcocokan antara kurikulum dengan perkembangan ilmu pengetahuan
dan kebutuhan nyata peserta didik, ketidaksesuaian antara pendidikan
dengan perkembangna kebutuhan masyarakat, ketidakseimbangan yang terus
menerus antara pendidikan dandunia kerja, ketidakmampuan lembaga
pendidikan formal untuk memberi kesempatan pemerataan pendidikan bagi
semua kelompok di masyarakat, dan meningkatnya biaya penyelenggaraan
pendidikan formal yabg tidak diimbangi oleh kemampuan negara terutama
negara sedang berkembang untuk membiayainya. Dengan demikian,
pendidikan nonformal menderita kelemahan dalam mengimbangi kecepatan
perubahan yang terjadi di luar pendidikan.
a. Philip H. Coombs (1963)
Philip H. Coombs mengatakan, akibat pertambahan penduduk yang mekin
pesat untuk memperoleh kesempatanm pendidikan sehingga menyebabkan
beban yang harus dipikul oleh pendidikan formal semakin berat,
sumber-sumber yang digunakan untuk pendidikan kurang memadai sehingga
pendidikan formal mengalami hambatan untuk merspon secara tepat terhadap
pertumbuhan dan perkembangan masyarakat, kelambatan system pendidikan
formal untuk menyesuaikan dengan perkembangan yang terjadi di l;uar
pendidikan serta kelemahan masyarakat tersendiri dalam memanfaatkan
lembaga dan lulusan pendidikan formal sehingga jurang perbedaan antara
jumlah dan kemampuan para lulusan dengan lapangan kerja makin bebas.
b. Ivan Illich (1972)
Ivan Illich (1972) megatakan, sekolah memonopoli pendidikan dan
lebihmenitikberatkan produknya berupa lulusan yang hanya didasarkan atas
hasil penelitian dengan menggunakan angka-angka dan ijazah,
mengaburkan makna belajar dan mengajar, jenjang pendidikan dan tingkat
kemampuan serta pemilikan ijazah dan kemampuan lulusan untuk
berprestasi dan berinovasi, proses pendidikan dinominasi oleh guru dan
pada gilirannya merampas harga diri peserta didik yang akan
mengakibatkan lemahnya ketahanan pribadi peserta didik (kurangnya sikap
kreatif dan kritis serta adanya rasa ketidakbebasan untuk
mengembangkan kemampuan diri sesuai dengan potensi yang mereka miliki)
serta tumbuhnya ketergantungan peserta didik kepada pihak lain yang
dianggap lebih berkuasa.
c. Paulo Freire
Paulo Freire mengatakan, sepanjang adanya kelompok yang menekan dan
kelompok yang merasa tertekan dalam suatu masyarakat yang tidak mungkin
bisa berkembang secara demokratis, kreatif dan dinamis,
ketidakberhasilan sekolah untuk mengembangkan situasi pembelajaran yang
memberi kemampuan kepada peserta didik untuk berpikir kritis sehinghga
mereka dapat mengenali, menganalisis dan memecahkan masalah yang timbul
dalam dunia kehidupannya, situasi pembelajaran di sekolah pada umumnya
tidak mengembangkan dialog antara pendidik dan peserta didik, tidak
saling belajar dan sekolah lebih menekankan hubungan vertical antara
guru dan dosen serta belajar mengajar di sekolah lebih didominasi oleh
guru yang cenderung berperan sebagai penekan (oppressor) sedangkan
peserta didik cenderung berada dalam situasi tertekan (oppressed).
d. Carl Rogers (1961)
Carl Rogers mengatakan, bahwa proses pembelajaran pendidiksn nonformal berpusat pada guru.
e. Abraham H. Maslaw (1954)
Abraham H. Maslaw mengatakan, bahwa tarap kehidupan peserta didik akan
terus meningkat apabila dalam dirinya telah berkembang kemampuan untuk
mengenali kenyataan diri melalui interaksi dengan lingkungan melalui
penggunaan cara-cara baru.
f. Jerome S. Bruner (1966)
Jerome S. Bruner mengatakan, adanya dorongan yang tumbuh dari dalam
diri peserta didik, adanya kebebasan peserta didik untuk memilih dan
berbuat dalam kegiatan belajar, serta peserta didik tidak merasa
terikat oleh pengaruh ganjaran dan hukuman yang datang dari luar
dirinya yaitu dari guiru.
g. B. F. Skinner (1968)
B. F. Skinner mengatakan, bahwwa pada umumnya kegiatan pembelajaran
yang dilakukan dalam pendidikan tidak didasarkan atas perkembangan
lingkungan, kegiatan pembelajaran lebih didominasi oleh pendidik dan
bukan oleh bahan dan cara belajar, serta peserta didik dan lulusan
kurang tangkap terhadap kenyataan dan masalah yang terdapat dalam
lingkungannya.
h. Malcolm S. Knowles (1977)
Malcolm S. Knowles menggabungkan teori psikologi dan pendekatan sistem
untuk mengembangkan proses pembelajaran dan beranggapan bahwa, setiap
peserta didik memiliki kebutuhan psikologi untuk mengarahkan diri
supaya diakui oleh masyarakat, kegiatan belajar yang tepat ialah
kegiatan yang melibatkan setiap peserta didik untuk alternative jawaban
terhadap pertanyaan atau masalah, peserta didik dapat mengarahkan
dirinya sendiri untuk menemukan dan melakukan kegiatan yang tepat dalam
memenuhi kebutuhan belajarnya. Faktor penyebabnya dikarenakan oleh
sikap kaku yang terdapat pada pendidikan formal itu sendiri yang lamban
untuk melakukan inovasi atau menyerap hal-hal yang baru datang dari
luar sistemnya, orientasi terhadap pendidikan terhadap aturan-aturan
yang ditetapkan oleh birokrat atas lebih kuat dibandingkan dengan
orientasinya terhadap kenyataan yang terdapat di luar system termasuk
ke dalam kepentingan kehidupan para siswa.
3) Para Perencana Pendidikan untuk Pembangunan
a. Masalah Pendidikan di Negara Berkembang
Masalah pendidikan yang berkaitan dengan kependudukan, yaitu: Anak usia
prasekolah yang banyak jumlahnya, banyak usia anak sekolah dasar yang
tidak tertampung oleh lembaga pendidikan formal yang ada, besarnya
jumlah orang dewasa yang tidak mempunyai kesempatan mengikuti pendidikan
formal, besarnya angka putus sekolah, besarnya jumlah lulusan suatu
jenjang pendidikan yang tidak melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.
Arah Pembangunan di Negara yang Sedang Berkembang
Pendidikan nonformal memberi dukungan terhadap pembangunan pedesaan
karena program-programnya yang berorientasi untuk memenuhi kebutuhan
belajar penduduk pedesaan, memotovasi masyarakat untuk berpartisipasi
dalam kegiatan pembangunan, menumbuhkan inovasi karena sifatnya,
menggunakan sumber-sumber yang terdapat di masyarkat setempat, menjadi
forum saling kegiatan belajar bagi masyarakat, mendorong terjadinya
komunikasi antar lembaga pemerintah, lembaga swadaya dan pihak-pihak
lain yang bergerak dalam kegiatan pendidikan nonformal dan pembangunan
masyarakat, lebih murah biaya penyelenggaraannya dibandingkan dengan
biaya pengeluaran pendidikan formal.
c. Pendekatan Pendidikan Nonformal terhadap Pembangunan
Pendekatan yang dugunakan pendidikan nonformal terhadap pembangunan
ialah pendekatan fungsional. Pendekatan tersebut mengarahkan
program-program pendidikan, terutama pelatihan keterampilan untuk
mendukung pengembangan fungsi-fungsiekonomi di masyarakat. Tujuh
kelompok program pendidikan nonformal meliputi: pendidikan dasar
(pemberantakan tuna aksara, motivasi dan orientasi pembangunan) bagi
pemuda dan orang dewasa di pedesaan, pendidikan umum yang berorientasi
pada dunia kerja dan latihan kerja di sekitar pertanian dan
non-pertanian bagi anak-anak putus sekolah dasar dan pemuda, pendidikan
keluarga (kesehatan dan gizi keluarga,ekonomi keluarga, keluarga
berencana dan sebagainya) bagi kaum ibu dan wanita remaja di pedesaan,
latihan usaha tani bagi orang dewasa dan pemuda di pedesaan, latihan
produktif di sekitar sektor pertanian bagi mereka yang belum dan telah
bekerja atau berusaha, latihan kewirausahaan dan pengelola usaha bagi
para usahawan kecil, pemuda, dan pemuda yang belum bekerja, latihan
kepemimpinan bagi kepala desa dan staf, pimpinan organisasi pemuda dan
wanita serta petugas dan kader pembangunan masyarakat desa.
d. Perluasan Perencanaan Pendidikan untuk Pembangunan
Para perencana pendidikan untuk pembangunan mulai memperluas jangkauan
dari pendekatan perencanaan yang berorientasi internasional kepada
pendekatan perencanaan yang bercorak regional, nasional dan daerah.
e. Model-model pendidikan nonformal untuk Pembangunan
Pendidikan nonformal sebagai pelengkap pendidikan formal dianut oleh
pakar dan perencana pendidikan untuk pembangunan yang beradadi negara
industri, pendidikan nonformal yang pararel dengan pendidikan formal
dianut oleh Philip H. Coomb dan Lyra Srinivasan menekankan bahwa kedua
jalur pendidikan tersebut berjalan berdampingan dan salaing menunjang
antara yang satu dengan yang lainnya, pendidikan nonformal sebagai
alternative bagi pendidikan formal dianut oleh Paulo Freire, Saul
Alnsky, dan jalur Nyrere. Alasan untuk menunjang kebebasan pendidikan
nonformal untuk mengembangkan system dan programnya yaitu memantapkan
peranannya sebagai pendidikan yang lebih relevan dengan kebutuhan
masyarakat dan pembangunan serta mengembangkan kemampuan masyarakat dan
meningkatkan kepercayaan masyarakat akan kemampuannya sendiri.
Pendidikan Nonformal dan Peningkatan Mobilitas
Pendidikan nonformal dipandang sebagai upaya alternative untuk
memberikan kesempatan peningkatan status kehidupan bagi masyarakat
Melalui pendidikan nonformal penduduk miskin dapat mempelajari
keterampilan kerja dan usaha sehingga menjadi lebih produktif dan dapat
meningkatkan status social ekonomi di dalam masyarakat, untuk
menyediakan tenaga kerja yang dibutuhkan dalam pembangunaan ekonomi baik
di pedesaan maupun di perkotaan, berkembangnya pendidikan nonformal
yang berkaitan dengan pembangunan pedesaan, pendidikan nonformal yang
berkaitab dengan pembinaan kesatuan dan berpolitik didasarkan atas
kesulitan dalam mengembangkan identitas bahasa dan budaya bersama.
Strategi Kebijakan Pendidikan Nnformal dalm Pembangunan
Pendidikan nonformal berintegrasi dengan kegiatan-kegiatan lembaga
lain, mengembangkan keterkaitan dengan pendidikan formal, meningkatkan
peranannya dalam membelajarkan masyarakat miskin.
Pendidikan Nonformal Berorientasi pada Kewirausahaan
Pendidikan nonformal dapat membina dan mengembangkan kewirausahaan
melalui mengintegrasikan materi pembelajaran kewirausahaan ke dalam
kurikulum satuan jenis nonformal, kewirausahaan menjadi program
pendidikan tersendiri. Wirausaha adalah orang yang mampu mengantidipasi
peluang usaha, mengelola SDM guna meningkatkan keuntungan dan
bertindak tepat menuju sukses.
Read More......